DI BALIK CERITA MANUSIA POHON

Suatu hari kami di tugaskan kantor masing-masing untuk melacak keberadaan seseorang bernama Dede yang dijuluki manusia pohon. Sosok Dede si manusia pohon ini menjadi buah bibir. karena karena keberadaannya telah tercium oleh media asing, yakni Discovery Channel yang kemudian menayangkan sosok Dede dengan julukan Manusia Pohon. Media inilah yang kemudian menawarkan fasilitas pengobatan terhadap si manusia pohon, asal kampung Bunder, Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Lalu berbagai media cetak lokal dan nasional mengutip cerita tersebut, sehingga kami pu ditugaskannya untuk mewawancarainya.

Kami pun berangkat, tanpapetunjuk apapun tentang keberadaan rumah Dede hanya satu-satunya sebuah sebuah fotoyang dimuat koran lokal Bandung yang dikutip dari internet dan sedikit petunjuk lainnya, Dede tinggal di dekat pinggiran waduk Saguling.

Secuil informasi ini pun kami bawa sebagai bekal untuk mencari keberadaan mansia pohon Dede, ke daerah Cililin. Bandung Cililin jaraknya, sekitar 80 kilometer. kami menggunakan sepeda motor. Perjalanan mengasyikan, karena kami sudah lama tidak melakukan perjalanan jarak jauh dengan sepeda motor, walaupun terik menebus jaket kami yang tebal sehingga keringat terserap dan pengap.

Tiba di Cililin kami pun datang ke Kecamatan, dengan harapan, aparat pemerintah setemapat mengetahui keberadaannya. Walhasil, kami pun tidak memperoleh informasi keberadaan Dede. Informasi tambahan kami dapat ketika seorang kawan menghubungi, Hanny Interprise, sebuah event organizer yang “mengelola” Dede  dalam setiap pertunjukannya, bahwa Dede berada di kawasan pinggiran Saguling, untuk mencapai rumahnya harus menaiki rakit menyebrangi sungai.

Benak pun kemudian melayang, seberapa jauh Dede tinggal. Bayangan pun kemudian berganti, menjadi mesin hitung, berapa kami harus mengeluarkan ongkos untuk mencpaai kesana, lalu dikalkulasikan dengan honor yang kami dapat sebagai seorang kontributor. Namun benak pun segera berganti dengan panggilan jiwa kami sebagai jurnalis, kami harus segera menemukannya dan mengabaikan pikiran lain selain menemukan manusia pohon dan mewawancarainya.

Kami pun nekad,menyusuri bendungan Saguling dengan tujuan sebuah tambatan perahu atau rakit, sperti informasi yang kami terima. Sampai di tempat itu tak ada satupaun orang tahu. Sebagian kawan pun akhirnya beranjak dari tempat itu, selain tidak sabar, juga karena panggilan perut yang tidak terbendung, lapar!

Namun Tuhan sayang kami, seorang warga mengetahuinya, Dede di kenal sering mengemis di pasar Cihampelas, sebuah pasar kecamatan pecahan kecamatan Cililin. Tak pikir panjang, kami langsung melesat menancap gas dengan sepeda motor kredit yang baru lunas bulan kemarin setelah mencicil selama tiga tahun.

Beruntung kawan-kawan telah terlatih melacak keberadaan orang misterius. akhirnya di Cihampelas, didapat nama daerah tempat dede tinggal, namun sayang tidak orang yang mengetahui tepatnya. Lagi-lagi petunjuk sebuah tempat di penambatan perahu.

Bensin sudah mulai habis. Kami pun akhirnya menuju penambatan perahu yang ditunjukan. Lagi, Tuhan sayang kami. Seorang tukang ojek mengatahuinya, dengan antusia menceritakan pengethaunnya tentang Dede. Untuk memastikannya, kami pun memperlihatkan gambar di koran lokal yang kami bawa yang sudah mulai lusuh.  Informasi berharga itupun cepat kami tangkap, dengan membawa tukang ojek itu ketempat Dede.

Bensin pun habis! kawan-kawan melaju kencang, karena gembira dan ingin segera bertemu. Sepuluh  ribu, bensin terisi. Peluh disekujur tubuh, karena tajamnya sengatan matahari tak dihirau, panel gas pun ditancap. Sepeda motor pun melesat, walau sedikti goyang karena peleknya  “bingkeng”. Belum sempat diservis. Mungkn karena unga dua puluh ribu lebih berharga untuk mengirim naskah dan gambar ketimbang, keselamatan jiwa.

Akhirnya, rumah Dede pun ditemukan berkat keramahan orang Desa, yang mengantarkan kami. Unjuk salam kami sampai sambil tergesa mengeluarkan kamera, karena deadline sudah menyeruak kita, karena sang surya telah condong ke barat.

Orang timur memang ramah terutama di desa. Kami pun disambutnya,  tujuh gelas air putih pun telah tersajidi meja, setelah puluhan hela napas kami berbicara, dan tak kami sentuh. Rasa haus nilainya lebih rendah ketimbang mengambil gambar dengan segera.

Orang timur memang ramah terutama  di desa. Lelaki tua tanpa daksa, yang belakangan diketahui orang tua Dede tak sungkan menyambut kami orang kota yang selalu tergesa-gesa. Dirinya bercerita tentang anak keduanya tersebut. Kami sempat merecord gambar, ketika sang tua memperlihatkan sebuah surat dari luar negeri yang menyebutkan Dede akan di obati disana. Surat itu didapat, setelah Dede diliput FOXTV untuk Discovery Channel.

Tujuh gelas air putih belum kami sentuh. Dede belum muncul, menemui kami hingga kami melirik jam dinding yang sudah memberitahu hari akan mulai sore. Negosiasi kami lalkukan untuk membujuk Dede keluar. Namun sang adik Dede yang belakang diketahui kang Imut seolah bingung. Bingungnya orang desa, katanya.

Dia tidak berani mengeluarkan kakaknya unuk diambil gambar, karena taku akan seseorang, bernama Jangkung. Sehelai kertas berisi sebuah nomor telepon mengakhiri negoasiasi kami. Nomor tersebut milik Jangkung, yang mengendalikan Dede. Seorang kawan menelponnya. Lagi orang timur memang ramah terutama orang desa. Percakapan basa-basi pun dimulai.

Kami menerangkan maksud kedatangan kami,  yang inginmeliput Dede untuk diberitakan, karena tugas jurnalis untuk kemanusian. Tapi apa yang terjadi. si jankung ini meminta sejumlah uang sebesar 10 juta kepada kami. Alasannya liputan kami ini untuk komersil karena disiarkan televisi.

Kami terkejut! Dan tujuh gelas air putih pun belum  kami minum. Si jangkung pun bertutur di ujung telepon. Dede telah dikontrak FOX sebesar 150 juta untuk tiga episode. Ternyata ini virusnya!

Entah karena rupiah atau karena kontrak itu, sehingga kami jurnalis tanah air berkunjung dengan alasan kemanusian, tiba-tiba terganjal. Beberapa kawan mulai tidak sabar, kemudian menyerah. Dari tujuh gelas air putih hanya satu yang terteguk, saya yang meminumnya karena ironi lebih haus ketimbang tenggorakan saya.

Kami pun pulang!

Sepeda motor lagi kencang, seolah dia tahu kekecewaan telah menggumuli majikannya. Terik seakan lebih panas dari siang tadi. Peluh lebih basah. Karena sepanjang jalan beberapa pertanyaan muncul yang seharusnya kami mendapat jawabannya.

Mengapa kami harus membayar untuk mengambil gambar, apakah benar karena kontrak itu? Jika benar 150 juta kenapa keadaan keluarga Dede tak seperti memiliki uang itu? Kami jurnalis tanah air,  kenapa jurnalis asing mengalahkan kita?

Cerita ini pun kami bawa ke kota.  Kami bercerita di kota……[bersambung]

~ by kabaruntukkawan on 20 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: