Sekelumit Toko Sehati-Grosir sembako

Awalnya hanya dari keberanian. Lalu kami sepakat [istri, kakak ipar dan mertua], mengontrak sebuah toko di kawasan Gempolsari, Bandung. Tokonya hanya berukuran, 3 kali 5 meter, harganya 11,5 tahun, harga yang terlalu mahal [walaupun kami menyadarinya setelah mengontrak].

Dengan modal yang pas-pas, akhirnya kami menjalankan grosir kebutuhan pokok. Ada beberapa pertimbangan kenapa kami membuka toko ditempat ini. Pertama, kawasan Gempol daerah padat. Pemukiman banyak dihuni pendatang, karena kawasan industri. Di kawasan padat, pasti banyak warung kecil. Jadi sasaran kami, warung-warung tersebut.

Kedua, hanya itu yang terpikirkan. Karena wawasan kami ada disana, karena sebelumnya, di rumah memiliki warung. Terlebih usaha lain tidak bisa. Kami pernah membuka warung makan, karena tidak memiliki mental yang cukup warung pun bangkrut.

Ketiga, sembako banyak dibutuhkan orang. Siapa pun pasti membutuhkannya.

Saat ini kami telah berjalan selama enam bulan. Alhamdulillah pelanggan tetap sudah ada, walau tidak banyak. Pendapatan tertinggi baru 1,5 juta perhari dan terendah 200 ribu perhari. Memang omset ini kecil jika dibandingkan sebuah grosir yang telah berjalan bertahun-tahun.

Di tengah perjalanan, istri saya sempat down dan mengeluh karena omset tidak meningkat, tapi saya support terus. Saya bilang kepadanya, kita telah memiliki cukup pengalaman mental dalam berdagang ketika dagang makanan, bagaimana rasanya tidak ada yang membeli. Tapi kondisi itu terobati dengan sendiri. Jangan sampai kita kalah okleh kondisi, lihat lah mereka yang berdagang keliling. Hujan dan panas tak pernah mengalahkannya. Mereka pejuang yang tangguh!, Lalu kita siapa, kita sudah enak, berdagang dengan modal cukup, tak kepanasan tidak juga kehujanan. Apakah akah kalah, hanya pembeli kurang. Masih  ada hari esok. Rizki Allah…tidak akan habis sehari… apalagi oleh seorang diri.

Tapi itulah seni berdagang. Kata orang tua, seorang pedagang harus sabar! Memang benar, sabar yang tiada batas.

Kaka ipar dan mertua pun down, malah berpikir untuk over kontrak. Tapi saya tetap pada pendirian jalan terus…!

Kenapa jalan terus?

Pertama, suplier telah datang sendiri. Saya sudah jarang belanja dengan naik motor kehujanan.

Kedua, butuh waktu untuk orang mengenal toko kita

Ketiga, saya sudah melakukan dor to dor ke warung-warung dan dari survei ini, banyak warung tidak tahu ada grosir di sekitar mereka. Ini adalah harapan…untuk terus promosi.

Dengan kekuatan Bismillah…kita pun akhirnya terus berdagang…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: